Showing posts with label History. Show all posts
Showing posts with label History. Show all posts

58 Tahun Bersama Kuntoro

 

DSP Menyerahkan Buku kepada Kuntoro yang Memberikan Kata Pengantar
Dalam Buku Tersebut.



Saya dan Kuntoro
Saya  mengenal Kuntoro sejak umur saya 18 tahun, usia muda yang mempertemukan kami di kampus ITB Bandung, sekitar tahun 1965. Saya di jurusan Teknik Elektro dan Koentoro di Teknik Industri.

Sekitar tahun 1970, saya sempat berhenti kuliah, saat itu saya membantu almarhum ayah saya yang membuka percetakan di halaman belakang rumah, beliau memberi nama perusahaan keluarga kami PT Harapan Offset. Tepatnya di Jl. Wastukencana No.79-Bandung.

 

DSP Sesaat Sebelum Sidang Sarjana, Menolak Pencalonan Kembali Soeharto

(ITB-1978)


Sekitar tahun 1973, Kuntoro pulang dari Amerika, ia memperoleh gelar Pasca Sarjana sebanyak tiga gelar, kesemuanya diselesaikan dalam sekali waktu. Kuntoro sejak dulu memang terkenal cerdas dan jujur.

Kuntoro bagi saya bukan hanya sebagai teman sekelas dan seangkatan, namun ia juga teman bermain. Saat ia kembali ke Bandung, saya menyambutnya dengan sukacita, saat itu Kuntoro juga ikut membantu dalam manajemen PT Harapan Offset. Saya ingat sekali, waktu itu adik saya Hilmi Panigoro masih duduk di kelas 3 SMA, ia juga membantu di percetakan keluarga sebagai tukang cetak.

Sekitar tahun 1978, saya berangkat ke Mekkah, menemani Almarhumah Ibu saya menunaikan ibadah haji. Pada saat itu, Kuntoro sepenuhnya mengurusi percetakan PT Harapan Offset.

Jika mengingat nama Kuntoro, saya hanya membayangkan tentang sosoknya yang cerdas, lurus, jujur dan amanah. Ini terbukti selama masa karirnya, tidak ada kasus apapun yang menjerat Kuntoro, karena begitulah ia sangat bersih dan amanah.

Satu kali sekitar tahun 2000, tanpa direncanakan saya bertemu dengan Kuntoro di Mekkah. Padahal kami berdua tidak saling berkabar bahwa akan berangkat haji saat itu. Saat bertemu di sana, keduanya merasa kaget, pertemuan itu menyenangkan bagi kami. Saat itu saya yakin, kedekatan kami berdua ternyata sudah berada pada frekuensi yang sama.

 

 

Bersama Alm. Arifin Panigoro yang juga bersahabat dengan Kuntoro dan sempat membahas wacana Pendidikan Tinggi Medco-ITB di Jakarta.

 

Lima puluh delapan tahun persahabatan kami tanpa adanya konflik. Saya pikir karena persahabatan kami murni saling membantu dalam jejaring networking dan saling bertukar ide, gagasan. Tidak pernah sekalipun berkaitan dengan keuangan. Kuntoro sendiri banyak membantu saya, berbagi jejaring kerjanya untuk kegiatan saya.

Saat Kuntoro dirawat di Singapore, saya sempat menelpon istrinya, Tuti. Perempuan sederhana yang selalu setia mendampingi Kuntoro sampai akhir hayatnya, saya kira Kuntoro sangat beruntung memiliki Tuti di sisinya.

Hari itu saya tanyakan pada Tuti, “Bagaimana keadaan Kuntoro? Apa sebaiknya saya ke Singapore?

Namun saat itu Tuti menyampaikan kepada saya “Nanti saja jika sudah di Jakarta”.

Waktu berjalan, namun ternyata saya hanya mendengar kabar kepergiannya. Kuntoro lebih dahulu meninggalkan kita semuanya. Pertemuan terakhir saya dengannya justru di hari kematiannya, saya melayat ke rumah duka dan mengunjungi makamnya di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Saya merasakan perpisahan yang sangat mendalam.

 

Sosok Kuntoro

Tidak ada yang tidak mengenal sosok Kuntoro dengan berbagai prestasi karirnya. Padahal awalnya Kuntoro memulai karirnya sebagai dosen di ITB selama 40 tahun, saya kira Kuntoro sangat berdedikasi dalam mendidik generasi Indonesia. Berangkat dari dosen ia diberi amanat sebagai staf ahli Menteri Muda dalam Upaya Peningkatan Produksi dalam Negeri. Lalu karirnya melejit diberi amanah sebagai Menteri ESDM di era Soeharto dan BJ Habibie.

Setelah itu ia pernah diberi amanah menjadi Direktur Utama PLN, Ketua Pelaksana BRR Aceh-Nias. Terakhir sebelum meninggal, ia menjabat Kepala Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan di Kabinet Indonesia Bersatu II.

Banyak sekali prestasi Kuntoro yang sudah diraihnya dari dalam dan luar negeri. Saya tidak bisa menuliskannya satu demi satu, karena sudah bertebaran di hampir semua media berita online.

Namun, sosok Kuntoro secara pribadi, banyak berbekas di hati pada mahasiswanya dan orang-orang terdekat dengannya. Terutama bagi saya pribadi, kedekatan kami berdua yang sudah terjalin selama 58 tahun. Itu bukan waktu yang singkat, bahwa kami sahabat kental yang sudah terbukti langgeng dalam rentang waktu yang sangat panjang dan lama.

Akhir 2023, sahabat tercinta saya pergi meninggalkan kita semuanya. Bagi yang mengenal Kuntoro sebagai dosennya, Kuntoro tentu dosen yang gaul dan menyenangkan. Bagi yang mengenal Kuntoro sebagai rekan kerjanya, banyak yang menganggapnya sebagai pemimpin yang jujur dan bersih.

Satu hal yang selalu saya ingat mengenai Kuntoro, meskipun berkali-kali memegang berbagai jabatan penting, namun sikapnya pada saya tidak pernah berubah, sama seperti di tingkat satu, saat kami masih sama-sama di kampus ITB.
Selamat Jalan Kun..

 

DSP

 

 

Dari India, Inggris Menyerang Jawa

Oleh NAWA TUNGGAL, Kompas, 12/4/2016 Pada pertengahan April 1811, gelombang pasukan Inggris meninggalkan India untuk menyerang Jawa yang tengah berada di bawah kekuasaan Perancis. Pengerahan kekuatan militer laut yang melibatkan belasan ribu tentara dan 100 kapal ini konon merupakan salah satu pengerahan terbesar militer Inggris dalam sejarah negara itu. Wilayah Hindia Belanda, termasuk Jawa, berada di bawah kekuasaan Perancis karena ketika itu Belanda ditundukkan Perancis melalui Perang Napoleon (1803-1815). Belanda secara resmi dianeksasi Perancis pada tahun 1810. Jawa pun menerima imbas dari Perang Napoleon. Pendaratan pasukan Inggris di Pulau Jawa terjadi pada 4 Agustus 1811 di Cilincing, pantai utara Jakarta pada sisi timur. Pasukan Inggris terus berupaya merebut Jawa dari kekuasaan Belanda yang berada di bawah kekuasaan Perancis. Melalui berbagai peperangan, Inggris berhasil menguasai Jawa pada 18 September 1811 melalui Perjanjian Tuntang. Perjanjian ini dibuat di Desa Tuntang, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Perjanjian itu antara lain menyebutkan, wilayah Jawa, Palembang, dan Makassar harus diserahkan kepada Inggris. Begitulah, jalinan sejarah bangsa Indonesia tidak bisa dipisahkan dengan perjalanan sejarah bangsa-bangsa lain di dunia. Apa yang terjadi di Jawa merupakan dampak dari peristiwa yang melanda kawasan Eropa. Keterkaitan semacam ini dinilai belum diberi tempat yang memadai dalam pendidikan sejarah di kelas. Akibatnya, menurut sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Asvi Warman Adam, ada gap atau jarak antara pendidikan sejarah di sekolah dan pengetahuan sejarah yang terus berkembang di internet. "Pedoman pendidikan sejarah kita masih seperti di era Orde Baru. Sejak reformasi 1998 hingga sekarang, tidak dibuat pedoman pendidikan sejarah yang baru," tutur Asvi, pekan lalu, di Jakarta. Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid, pada beberapa kesempatan, mengutarakan, kesadaran sejarah sangat diperlukan untuk mengembangkan peradaban. Di sisi lain, bagaimana mungkin bisa membangun kesadaran sejarah dengan baik ketika pengetahuan sejarah tidak diberikan secara holistik dan memadai. Pengetahuan sejarah tidak hanya untuk meng- hafal kejadian masa lampau. Kontingen India Setelah Belanda tunduk melalui Perjanjian Tuntang, Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles (1781-1826) menduduki pucuk pimpinan pemerintahan Inggris di Jawa. Dennys Lombard, dalam buku Nusa Jawa: Silang Budaya (1996), menyebutkan, invasi Inggris dari India itu menyertakan kontingen-kontingen India yang berasal dari Bengali. "Setelah (Inggris) merebut Yogyakarta (pada tahun 1812), beberapa perwira dari India (subadar atau Kapten Dhaugkul Singh) terkejut melihat bahwa Jawa adalah tanah Brahma dan bahwa sunan adalah keturunan Rama," tulis Lombard. Kesadaran itu memungkinkan terjadinya Pemberontakan Kaum Sepoy (India) terhadap Inggris di tahun 1815. Dengan dukungan tersembunyi Keraton Surakarta, kaum sepoy dari India ini merumuskan gagasan pemberontakan terhadap Inggris untuk memulihkan kekuasaan Hindu. Namun, pemberontakan itu gagal. Selama berkuasa, Raffles menaruh perhatian khusus terhadap Jawa yang banyak dipengaruhi kebudayaan India. Raffles bahkan mengangkat persoalan indianisasi menjadi topik yang digemari. Raffles pun memberikan perhatian terhadap candi-candi Hindu-Jawa dan menulis buku History of Java. Perang Napoleon terus berlanjut. Kekalahan demi kekalahan dialami Kaisar Perancis Napoleon Bonaparte hingga berakhir pada 1815. Dalam suatu perjanjian di London, Inggris, pada 13 Agustus 1814, Inggris menyetujui wilayah Hindia Belanda dikembalikan kepada Belanda, yang tidak lagi berada di bawah kekuasaan Perancis. Pada tahun 1815, Belanda menyatakan kemerdekaannya kembali dari Perancis. Invasi Inggris ke Jawa dari India telah berakhir berabad- abad silam. Namun, melalui Raffles, invasi itu setidaknya telah mengenalkan kepada kita konsep indianisasi Jawa. Betapa Jawa sangat dipengaruhi oleh kebudayaan India. (NAWA TUNGGAL)

Tan Malaka

Oleh M. SUBHAN SD Tanggal 13 Februari 1922, Tan Malaka ditangkap di Bandung saat memimpin sekolah Sarekat Islam (SI). Bagi Belanda, ia berbahaya. Tanggal 23 Maret 2016, juga di Bandung, Tan Malaka dilarang tampil. Pementasan "Monolog Tan Malaka: Saya Rusa Berbulu Merah" di pusat kebudayaan Perancis IFI batal karena ditolak massa. Setelah Wali Kota Bandung Ridwan Kamil turun tangan, baru esoknya bisa dipentaskan. Masa lalu telah berlalu, tetapi kecemasan sejarah terus saja membayang: Tan Malaka masih dianggap berbahaya. Dia memang sosok kontroversial. Ditolak karena Marxis/komunis. Namanya dihapus dalam sejarah bangsa oleh rezim Orde Baru. Tan Malaka memang misterius. Jejak perjuangannya melampaui 11 negara di dua benua. Namun, di mana pun ia berada, selalu dianggap berbahaya. Dialah orang paling dicari polisi rahasia Belanda, Inggris, Amerika Serikat, Tiongkok. Terpaksa ia bersembunyi dan menyamar. Sedikitnya ia punya 23 nama samaran. Toh, pernah merasakan bui di Filipina dan Hongkong.
(sumber gambar: zenius.net)


Tan Malaka memang sosok kontroversi. Marxis, tetapi mengkritik keras Komunisme Internasional (Komintern) karena enggan bekerja sama dengan Pan-Islamisme. Pada usia 25 tahun (1921), dia sudah memimpin PKI, tetapi ditolak oleh PKI. Dia menolak rencana pemberontakan tahun 1926-1927, juga tak terlibat pemberontakan Madiun tahun 1948. Dari tempat persembunyiannya di Bangkok, dia membangun partai sendiri, Partai Republik Indonesia (Pari) tahun 1927.

Tan Malaka juga ironi. Mendapat gelar pahlawan pada 1963, tetapi akhir hayatnya sangat tragis. Dia dieksekusi dengan tangan terikat ke belakang, yang disinyalir dilakukan tentara pada 1949. Harry A Poeze, sejarawan Belanda yang setia menelusuri jejak Tan Malaka, menelusuri makamnya di Selopanggung, Kediri.

Namun, sulit membantah Tan Malaka tokoh legendaris. Sesungguhnya ia nasionalis tulen. Apa pun ideologinya, ia mencurahkan hidup untuk kemerdekaan bangsanya. Bahkan, tak hirau dengan kehidupannya sendiri. Tak heran, nama besarnya menjadi patron bagi para pejuang bangsa. Dia disebut "Bapak Republik Indonesia", setelah menulis Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik) tahun 1925.

Di kalangan mahasiswa sampai awal 1990-an, ia adalah idola. Pada zaman Orde Baru, buku-bukunya dicari lewat bisik-bisik. Madilog (1943) jadi puncak karya Tan Malaka, sebagai filsuf sampai tataran praksis, bukan cuma tataran ide. Berburu buku-buku Tan Malaka tak saja sulit, tetapi juga kater-ketir. Sekitar 1988-1989, karena sering berjongkok di penjual buku loakandi Pasar Senen, Jakarta Pusat, beruntung mendapatkan buku-buku lawas Tan Malaka, termasuk masih dalam bentuk ketikan.

Tahun 1994, ketika pergi ke Bayah, Banten selatan, salah satu tempat persembunyian Tan Malaka zaman penjajahan Jepang, ada orang tua yang mengenalnya. Pak Tua cuma ingat, tahun 1940-an, ada lelaki bertubuh tidak tinggi, tetapi dikenal pintar dan jago bicara. Sayang, sewaktu di Haarlem, Belanda, tahun 2014, tak sempat menelusuri jejak Tan Malaka (1913-1919).

Sekarang tahun 2016. Komunisme telah lama apkir. Rezim pun telah berganti. Namun, Sutan Ibrahim Datuk Tan Malaka, begitu nama lengkapnya, tetap saja "berbahaya". Dia benar-benar pejuang revolusioner yang kesepian. Sejarah memang penuh ironi. Padahal, kata sejarawan Sir John Seeley (1834-1895), belajar sejarah agar kita lebih bijak. Kita-generasi yang merasakan kenikmatan kemerdekaan sekarang-sesungguhnya telah berutang kepada Tan Malaka dan pendiri bangsa yang lain.

Sumber: Kompas, 31/3/2016


Melacak Leluhur Melalui Makanan

Makanan bukan hanya soal kebutuhan badan. Makanan juga menjadi identitas. Identitas sebuah suku, sebuah komunitas, hingga bangsa. Tak mengherankan apabila makanan juga menjadi salah satu ciri eksistensi masyarakat. Kehadiran makanan bisa menjadi tanda kehadiran sebuah bangsa. Namun, masih sangat sedikit orang yang mencari keberadaan bangsa atau leluhurnya melalui makanan.

Salah satu dari sedikit orang yang mencari leluhurnya melalui makanan itu adalah Koo Siu Ling. Kematian ibunya yang meninggalkan buku resep bertulis tangan membuatnya penasaran. Perasaan ini diakuinya tidak muncul saat ia sibuk dengan pekerjaan dan kesehariannya. Namun, begitu ia melihat buku-buku itu, pikirannya melayang dengan banyak pertanyaan.

KOMPAS/ANDREAS MARYOTO

Menulis buku resep makanan sudah banyak dilakukan beberapa kalangan. Namun, menulis buku resep yang memiliki kisah di balik resep-resep tersebut masih sangat langka di Indonesia.

Koo Siu Ling, peranakan Tionghoa yang tinggal di Belanda, melacak sejarah nenek moyangnya melalui menu makanan mereka serta buku resep warisan ibunya dan juga kerabatnya hingga ia menemukan kehidupan peranakan Tionghoa Jawa Timur dulu dan sekarang.

Ling kecil yang lahir tahun 1939 di Kota Malang, Jawa Timur, dididik ibunya yang seorang guru. Ia mengaku dalam kehidupan mereka sehari-hari resep makanan diperkenalkan sejak dini.

Kini, ia menerbitkan resep-resep makanan ibu dan kerabatnya dalam sebuah buku berjudul Culture, Cuisine, Cooking, an East Java Peranakan Memoir. Buku ini ditulis dengan bantuan Paul Freedman, seorang profesor Sejarah Chester D Tripp di Universitas Yale, Amerika Serikat.

Kisahnya berawal saat ibunya meninggal, ia menemukan buku-buku resep makanan yang sudah lama ditulis tangan ibunya. Ling juga mencari buku-buku resep makanan milik kerabatnya.

Buku resep itu ada yang bertahun sekitar 1930. Kadang ditulis dalam bahasa Belanda, kadang Mandarin, dan kadang Jawa. Ada juga bahasa Hokkian yang merupakan warisan leluhurnya.

Dengan membaca buku resep makanan tersebut, ia melihat bahwa Tionghoa peranakan menyerap dan mengadopsi masakan Belanda dan Jawa. Di dalam buku itu, terlihat adopsi masakan tersebut, mulai dari galantine dan kue dari Belanda serta sate dan rawon yang diadopsi dari Jawa.

”Ini buku masak mama saya. Tulisannya masih bagus. Ada beberapa bahasa di dalamnya. Ada bahasa Belanda, bahasa Jawa, bahasa Mandarin, dan ada bahasa Indonesia,” kata Ling sambil memperlihatkan buku setebal 5 sentimeter yang antara lain berisi tulisan tangan ibu dan familinya.

Motivasi menerbitkan buku tersebut awalnya adalah keinginan agar anaknya bisa membaca buku resep itu. Ia berpikir jika buku tersebut tidak dibukukan, resep ini akan hilang. Ibunya menulis resep mulai akhir 1920-an sampai tahun 2000.

Satu ciri yang unik, di setiap resep tidak pernah diberi ukuran bahan. Akibatnya, setiap mencoba resep itu Ling harus menanyakan ke kenalannya.

”Saya memperhatikan buku itu setelah ibu meninggal tahun 2000. Dulu buku ini kan tidak dianggap. Beberapa tahun sesudahnya saya melihat itu. Saya tahu buku tersebut tidak boleh dibuang. Lama masih tersimpan di lemari hingga saya mulai mengetik ulang. Tidak ada amanah untuk tidak dibuang, tetapi saya mengerti dan waktu kecil saya mengerti buku itu dan saya tahu buku itu lebih berharga dibandingkan dengan buku-buku yang lain,” tuturnya.

Bolak-balik ke Malang

Apakah Anda pernah mencoba resep di dalam buku tersebut?

”Iya. Saya harus pergi ke Malang untuk mencoba resep itu. Saya masih bertemu dengan pembantu tante saya yang umurnya sekitar 70 tahun, dan ada juga saudara saya yang pintar masak. Saya bolak-balik (ke) Malang sejak tiga tahun yang lalu,” kata Ling.

Ia mengaku tidak pernah mencoba masakan itu di Belanda karena di dalam buku tersebut tidak ada ukuran bahan-bahan dalam resep, selain karena sulit mencari beberapa bahan makanan.

”Saya baru mengerti, melalui buku ini kalau makanan itu bukan sekadar makanan, melainkan juga kebudayaan dan sejarah. Karena itu, makanan harus ditaruh dalam konteks sejarah. Dari masakan ini, sekarang saya mengerti sejarah orang Tionghoa di Indonesia, khususnya di Jawa Timur,” tuturnya.

Banyak makanan yang merupakan pencampuran budaya Jawa, Tionghoa, hingga Belanda dalam resep-resep di buku itu. Ia menyebut antara lain kehadiran petis dan juga cwie mie di Jawa Timur menjadi penanda pengaruh etnis Tionghoa di Jawa Timur.

Saat menulis buku itu, sesuatu yang menyulitkannya adalah mencari data tentang makanan, sejarah, dan beberapa rempah. Ia harus mencari di sejumlah perpustakaan.

Ling mengaku, kalau tidak menemukan data yang benar, ia tidak berani menulis mengenai makanan itu. Untuk menyelesaikan bukunya, Ling membutuhkan waktu empat tahun. Buku tersebut terdiri dari tiga bahasa, yaitu bahasa Inggris, bahasa Belanda, dan bahasa Indonesia.

”Saya memilih tiga bahasa karena, dengan bahasa Inggris, jangkauannya akan lebih luas. Ada bahasa Belanda agar orang Belanda bisa baca buku ini. Saya masih tetap merasa sebagai orang Indonesia, karena itu harus dengan bahasa Indonesia. Lidah saya masih Indonesia meski bahasa saya kurang bagus,” kata Ling terkekeh.

Ketika dipuji bahasa Indonesianya masih bagus, ia kembali tersenyum.

”Wah bahasa Indonesia saya sudah setengah mati. Di keluarga saya berbahasa Belanda. Waktu di Indonesia belum stabil, saya dikirim ke Belanda. Waktu kecil saya juga belajar bahasa Jawa. Isih ngerti,” katanya. Ia mengaku meski lama berada di luar negeri seleranya masih terpelihara.

”Karena lidah saya sebenarnya tertinggal di sini. Logat Jawa saya juga masih keluar. Kadang bahasa Jawa juga masih keluar,” katanya. (ANDREAS MARYOTO)


Sumber: Kompas, 10/1/2016

English Conversation Club - Institute of Technology Bandung: Friendship and Peace



Pada saat bersekolah di SMP Negeri 2 Bandung, saya memperoleh pelajaran bahasa Inggris dari guru Alex Sahetapy. Entah kenapa saya dengan teman sekelas Yusuf Effendi sangat menyukai pelajaran itu, lisan maupun tulisan. Mungkin beliau mengajar dengan cara yang menggembirakan dan mudah. Yusuf Effendi sekarang seorang dokter di Jakarta dan menikah dengan teman sekelas kami juga, Hera Rifai, juga seorang dokter.

Kemudian saya masuk ke SMA Negeri 2 Bandung dan tidak ada kesan khusus mengenai pelajaran bahasa Inggris saat itu. Baru setelah saya masuk ITB tahun 1965 dan turut dalam gerakan penumbangan Orde Lama, para mahasiswa membuat berbagai aktifitas di kampus antara lain pendirian Student Center ITB bersama para sahabat; Bangun S. Kusmuljono, Hermen Makbul, dan lain-lain, atas sumbangan para simpatisan antara lain Sudarpo Sastrosatomo, A. Bakrie, Pertamina, Kepala Staff Angkatan Darat, dan lain-lain.

Adik kelas kami Egon Arifin yang dibesarkan di luar negeri bersama Aswin Lubis, aktifis, mendirikan English Conversation Club. Di situlah saya dan juga Fadel Muhammad, aktif kembali dalam kegiatan meningkatkan kemampuan dalam berbahasa Inggris.

Dalam suasana ekonomi yang masih prihatin hampir semua acara dilakukan di Aula Barat tanpa sponsor.

Gedung Student Center ITB saat ini (sekarang disebut Campus Center).
(sumber gambar)


Belajar dari Yus Rusamsi

Masih di SMP Negeri 2 Bandung, saya mendapat pelajaran menggambar dari Yus Rusamsi. Belakangan ia menjadi penulis dan menjadi pelukis. Sampai usia senja dia tekun melukis malah bulan yang lalu beliau menggelar pameran lukisan di Balai Budaya, Jakarta, mungkin yang terakhir karena penglihatannya sudah sangat terganggu. Karya terbaiknya dikoleksi di Gedung Energi dan di kediaman kami.

Gaya lukisannya naturalis, alam Parahyangan dengan detil.

Salah satu karya Yus Rusamsi
(sumber gambar)

Sultan Hamengku Buwono IX: Sosok Humanis Nan Cerdik

Saat itu, 2 Oktober 1988, hujan turun di Yogyakarta setelah tiga bulan kota kering tanpa hujan. Konon itulah yang biasa terjadi bila ada anggota keluarga keraton Yogya meninggal. Sultan Hamengku Buwono IX telah mangkat di kamar suite 316-317 Hotel Embassy Row persis di depan KBRI di Washington, AS. Hujan juga tumben turun di kota Washington, ketika jenazah Sang Raja disemayamkan di KBRI dan ketika diberangkatkan ke Jakarta. Ratusan ribu rakyat Yogya pun telah menanti dan antri berdesak-desakan untuk sungkem terakhir kalinya.

Sumber foto: Majalah Tempo

Hamengku Buwono IX adalah sosok yang fenomenal. Tak hanya berperan secara kultural, ia juga berperan penting dalam perkembangan politik dan ekonomi Indonesia khususnya pada awal-awal kemerdekaan. Ia pernah menjadi Menteri Pertahanan RIS, Menteri Ekonomi, Keuangan dan Industri, kemudian juga menjadi Wakil Presiden RI. John Monfries dalam bukunya A Prince in a Republic (2015) menyebut Sultan sebagai penyelamat Republik di belakang layar.

Belanda pun salah kira dalam memperkirakan nasionalisme Sultan. Meskipun sejak kecil ia dididik oleh keluarga Belanda, serta meneruskan pendidikan tinggi di Rijksuniversiteit (sekatang Universitas Leiden), namun sikap politik Sultan tetaplah nasionalis. Saat Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan, sebagai Raja Yogyakarta Sultan sebenarnya bisa menolak bergabung dengan Indonesia dan membentuk pemerintahan sendiri. Namun itu tidak dilakukannya. dengan cepat ia menyatakan Yogyakarta dan Keraton berada di bawah Republik Indonesia. Ia orang kedua di Yogyakarta sesudah Ki Hadjar Dewantara yang mengucapkan selamat kepada Soekarno-Hatta.


Sosok Humanis yang Cerdik

Pada saat Jepang kalah dan para pemuda radikal di berbagai kota menyita senjata Jepang, Yogyakarta adalah wilayah yang aman. Sultan mencegah terjadinya kekerasan terhadap warga Eropa, Cina dan Ambon. Ia mengevakuasi orang Belanda yang ditawan Jepang.

Tindakan kemanusiaan lainnya yang ia lakukan adalah pada saat menyelamatkan rakyat Yogya dari keharusan kerja paksa untuk Jepang (menjadi romusha). Kewajiban yang ditetapkan Jepang ini membuat penduduk di sejumlah daerah menderita luar biasa. Mereka dipaksa menyetorkan bahan makanan. Mereka pergi menjadi romusha untuk membangun proyek-proyek seperti jalan, rel kereta api, lapangan terbang, dan menggali batubara. Mereka mendapatkan gaji, tapi tak sebanding dengan pekerjaannya yang berat. Alhasil, ribuan nyawa menjadi korban. Sultan, dengan segala cara, berusaha keras untuk melindungi rakyatnya dari kekejaman fasisme Jepang.

“Mengelakkan permintaan Jepang sama sekali tak akan mungkin, tetapi Sultan Hamengku Buwono IX cukup pandai ‘mengelabui’ tentara Jepang,” demikian tertulis dalam bunga rampai Takhta Untuk Rakyat, yang dihimpun Mohamad Roem dkk.

Sultan menyembunyikan statistik yang sebenarnya, baik perihal penduduk maupun hasil panen padi dan populasi ternak. Dia berhasil meyakinkan Jepang bahwa daerahnya tak mampu menghasilkan bahan pangan untuk mencukupi kebutuhan penduduk. Alasannya, wilayah Yogyakarta terlalu sempit dan hanya sedikit tanah yang dapat ditanami karena sebagian selalu tergenang air pada musim hujan. Sementara wilayah lainnya kering dan tak subur untuk pertanian.

Maka agar daerahnya dapat menyetorkan hasil bumi kepada Jepang, Sultan meminta dana untuk membangun irigasi. John Monfries dalam bukunya menulis bahwa Jepang rupanya mengabulkan permintaan tersebut dan bahkan memberikan 1 juta Gulden untuk mendanai proyek tersebut. Saluran dan pintu air yang dibangun tersebut kemudian dikenal dengan sebutan Selokan Mataram. Dan dengan ide cerdik tersebut maka sebagian besar warga Yogya pun membangun saluran air tersebut dengan sistem kerja shift sehingga terbebaslah warga Yogya tersebut dari keharusan menjadi romusha. Meski tetap masih ada sebagian warga Yogya yang harus menjadi romusha tapi jauh lebih sedikit dari daerah lain. Dan akhirnya, upaya tersebut menghasilkan produktivitas pangan dan mengarah pada kemakmuran warga Yogya.


Perannya pada Pembentukan Fondasi Ekonomi Orde Baru



Pada awal-awal pemerintahan Orde Baru Sultan Hamengku Buwono IX berada di barisan terdepan dalam pembentukan fondasi ekonomi Republik Indonesia. Menjelang keruntuhan Demokrasi Terpimpin, ia tengah menjabat sebagai Ketua Badan Pemeriksa Keuangan. Dalam posisinya itu ia melihat banyak kesalahan dalam manajemen keuangan Soekarno. Pada akhir 1965 Sultan pun bertemu dengan Widjojo Nitisastro untuk membicarakan pemulihan ekonomi. Pada saat itu Sultan juga disebut mempersiapkan blueprint ekonomi Orde Baru. Ia percaya pada pentingnya swasta dan modal asing.

Di hari-hari terakhir Soekarno, Sultan memimpin delegasi ke Jepang mencari pinjaman uang. Ia juga berkeliling Eropa dan Amerika mengadakan pertemuan dengan berbagai lembaga seperti IMF, Bank Dunia, dan Bank Pembangunan Asia.

Setelah Soeharto secara resmi menjadi Presiden pada tahun 1968, Sultan kemudian dipercaya menjadi Menteri Keuangan dan Industri. Lalu pada tahun 1973 Sultan diangkat menjadi Wakil Presiden. Namun konon hubungannya dengan Soeharto merenggang dan wewenangnya dibatasi. Ia pun mengundurkan diri dari jabatannya dengan alasan kesehatan.

"Hamengku Buwono was a politically astute, non-idelogical pragmatist who cleverly used his ascribed status as Sultan not only to support the Republican cause during the Revolution, but also to ensure his political survival and, ultimately, to preserve his principality."

(John Monfries, A Prince in a Republic)


~ o 0 o ~

Sumber:

- Majalah Tempo edisi khusus Hari Kemerdekaan, Agustus 2015
- Historia.id
- John Monfries. A prince in a republic : the life of Sultan Hamengku Buwono IX of Yogyakarta. Singapore: ISEAS, 2015


Memories (miscellanous pic)

Berrend Chorengel, Adri Palar, Gerald Green, DSP, Alm. Sudibyo, Andre Pury, Alm. Maman.

Almarhum Priyatna Kusumah dan Arifin Panigoro, grand opening Preanger, Bandung, 1990.

Alm. Dina, Kusnoroto, dan Putu Swasti -- Grand opening Grand Hotel Preanger, Bandung, 1990

Paduan Suara Mahasiswa Trisakti, Konser Melati Suci, Gedung Kesenian, 2001

Joy Sie, Rara Rengganis Dewi, Zalmi Zubir, Citroenia Dinny,
Evie Hasan, Yenli Wongso, Rahmi Indira (Reuni Bali Imperial Hotel di Jakarta, 2005).

Topping-Off Novotel Bukittinggi, 22 Oktober 1994.

Ir. Hendirman Sapiie, sang pembangun Grand Hotel Preanger, Bali Imperial Hotel dan Bukittinggi Novotel.

Fund raising Elfa Singer Goes to Linz, Austria, 2003.

Bagus Wirajaya dan Mitamura.

Imel, Andien, di reuni Bali Imperial Hotel, Jakarta, 2002.

Ketua International Olympic Committee, Juan Antonio Samaranch, Swiss, 2002.

Recital piano, Jenggala.

Paduan Suara Mahasiswa Trisakti, Gedung Kesenian, 2001.

Konser musik di Jenggala.

Srikandi Martels, Grand opening Novotel Bukittiinggi, 1995.

Taufik Darusman, Swan River, Perth, 2001.

Chatib Basri, Mari Pangestu, Departemen Keuangan Australia, Canberra, 2001.

Garin Nugroho, singgah di Berastagi menuju Aceh Barat, saat tsunami.

Peresmian Suhanah Jack Up Rig, Singapore.

Menteri Luar Negeri Irak, di Bali Imperial Hotel, 2001.

Menteri Luar Negeri Irak, di Bali Imperial Hotel, 2001.

Sommy dan Miranda

Bangun Sarwito Kusmuljono, Irsa Destiwi, Agastya dan Fauzie Wiriadisastra.
Yazeed Jamin Award

Dengan Dian Sastrowardoyo di gd. Medco

Dengan Mangku Prastika, Rai Soekidjo dan Oka Muliawan di Bali.

Atlet anggar Phillipine, SEA Games, Kuala Lumpur 2001