Rumah Tebing di Tepi Kali Cikeas

Tanah bertebing di tepi sungai yang biasanya dihindari orang justru dicari pasangan Aranggi Soemardjan (41) dan Fransiska Oetami. Kontur tanah ini memungkinkan mereka mengadaptasi gaya rumah impian mereka yang terinspirasi dari rumah-rumah di Pulau Santorini, Yunani.

Fasad bagian belakang

Untuk mengikuti keseimbangan tanah yang sudah tercapai di lahan berkontur tidak rata ini, Aranggi atau Anggi menggali sedikit tanah yang kemudian dipindahkan ke tebing untuk retensi alias penahan. Di tempat ini kemudian dibangun fondasi yang menggunakan tiang pancang berkedalaman hampir 30 meter hingga ke dasar tebing. Hal itu dimaksud agar fondasi mampu menopang bangunan tiga lantai yang ia bangun.

Untuk dinding bagian luar, digunakan bata hebel yang ringan. Sementara dinding bagian dalam dibuat dari gypsum yang membentuk dinding tebal tetapi kosong di bagian dalam. Dalam perhitungan Anggi, kalaupun terjadi tebing longsor, rumah masih mampu tegak berdiri.

Pintu-pintu lengkung berwarna biru, jendela berbentuk lingkaran, serta dinding berwarna putih bersudut tumpul dengan tekstur tidak rata memperkuat kesan gaya Santorini. Ini masih ditambah dengan tangga melingkar yang dibatasi dinding dengan ketinggian berundak. Beberapa bagian dibuat menjorok ke dalam dinding, misalnya ruang perpustakaan, ruang makan, dan ruang untuk menaruh lemari pendingin.

”Meskipun belum pernah ke Santorini, suka saja dengan gaya rumah-rumah di sana. Kena di hati,” kata Anggi yang pernah tinggal 10 tahun di San Diego, Amerika Serikat, untuk kuliah dan bekerja.

Kamar tidur Anggi-Siska dan anak bungsunya yang bersisian dibuat menghadap tebing dengan dinding kaca yang dibuat dalam bentuk pintu lipat. Lantai kamar dilapisi vinil bermotif kulit kayu. Di atas lantai itu, Siska bersama anak bungsunya biasa melakukan yoga setiap pagi.

Teras kamar dibentuk setengah lingkaran dengan lantai kayu besi yang tahan rayap dan terpaan cuaca. Deretan pepohonan yang membentuk hutan kecil menjadi pagar alami yang tumbuh di atas tebing menuju bantaran Kali Cikeas. ”Kadang-kadang masih terlihat ular, burung elang, dan sriti di hutan itu. Ada pula yang pernah melaporkan lihat biawak di sungai,” ungkap Anggi.

Bagian paling bawah atau basement rumah digunakan sebagai kantor Anggi dan Siska, sekaligus Sekolah Coding Clevio yang dirintis keduanya sejak dua tahun lalu. Lantai satu digunakan sebagai ruang keluarga dengan ruang tamu dan tiga kamar tidur.

Sementara lantai paling atas khusus digunakan untuk keperluan lebih umum. Anggi dan Siska biasa menjamu tamu dan relasi mereka di lantai itu. Lantai ini bisa diakses lewat tangga di bagian luar atau dalam rumah. Ada sepasang sofa merah dan hijau di depan televisi yang juga berfungsi sebagai ruang keluarga, dapur, dan meja makan. Sofa merahnya sudah mengikuti Anggi berpindah-pindah tugas ke sejumlah negara. Ia selalu membawa serta perabot rumahnya saat harus pindah ke negara lain. Di bagian luar, sebuah ayunan menemani meja yang biasa digunakan Anggi ngupi-ngupi di pagi hari atau mengobrol dengan tamunya.

Perspektif lingkungan

Teras balkon

Sudut ruang makan

Anggi mendesain rumah ini didampingi sang ibu yang seorang arsitek. Latar belakang Siska yang kuliah di jurusan teknik lingkungan memberi perspektif lingkungan pada rumah ini. Ada banyak jendela di rumah ini yang membuat ruangan-ruangan cukup mendapat sinar matahari.

Anggi cukup detail menggarap rumahnya. Warna cat pintu yang biru atau warna cat yang disapukan pada lantai sengaja dibuat tidak rata. Demikian pula tekstur permukaan dinding gypsum-nya dibuat tidak rata agar terkesan alami. ”Biar kesannya empuk, enak dilihat, enggak kaku. Justru ketidaksempurnaan itu yang bikin homey,” kata Anggi yang kuliah di bidang teknik industri dan teknologi informasi di San Diego.

Pengalaman Anggi dan Siska tinggal di San Diego yang lahannya berbukit-bukit dan tandus membuat keduanya menyukai rumah-rumah tebing. Tak heran, keduanya menamakan rumah mereka sebagai Rumah Tebing.

Semula, Anggi ingin membuat ada bagian rumahnya yang menonjol ke arah tebing. Namun, karena sulit mencari kontraktor yang bisa mewujudkan keinginannya, niat itu untuk sementara diurungkan. Anggi masih menyimpan impian membuat jembatan yang menghubungkan rumahnya langsung dengan tepi sungai. Dengan begitu, orang yang melalui jembatan akan mendapat pemandangan hutan dari atas.

Rumah ini selesai dibangun tahun 2009 di atas lahan seluas 1.000 meter persegi yang berlokasi di salah satu sudut kluster perumahan Riverside, Cimanggis, Kabupaten Bogor. Tanah ini dibeli Anggi tahun 2005 setelah kembali ke Tanah Air. Ia ditunjuk sebagai CEO ThyssenKruppe Elevator untuk wilayah Indonesia setelah bekerja lima tahun di cabang perusahaan itu di San Diego.

Meski begitu, Anggi sekeluarga tak langsung menempati rumah itu karena kemudian ditugaskan ke Tiongkok dan Singapura. Baru tahun 2012 mereka tinggal di Rumah Tebing. Dari total luas lahan, tak sampai 25 persen areal tanah yang digunakan sebagai tapak bangunan. Anggi dan keluarga menyukai halaman dan taman yang luas.

Penanda awal sejarah mereka bersama rumah ini adalah tapak kaki keempatnya yang ditorehkan di atas lantai semen gapura rumah dengan nama masing-masing di bagian bawah, Anggi, Siska, Neo anak sulungnya, dan Selo si bungsu. Di bagian ujung tertulis ”designed by Tuti & Anggi” dan ”12 Juli 2009” tanda selesainya pembangunan rumah.

Tuti adalah ibunda Anggi. Nama anak bungsu Anggi, Selo Soemardjan, sengaja dibuat sama dengan kakek Anggi, Selo Soemardjan, dekan pertama FISIP UI yang dijuluki Bapak Sosiologi Indonesia.

”Saat ulang tahun ke-10 windu, beliau berdoa kalau meninggal bisa reinkarnasi. Saya bilang, ya sudah eyang, jadi anak saya saja,” ungkap Anggi.

Ruang keluarga dengan hamparan pemandangan perkebunan.

Kamar tidur utama berbatasan langsung dengan kamar tidur anak dengan akses cahaya dan udara segar dari jendela yang dapat dibuka lebar.


~ o 0 o ~

Sumber artikel: Kompas, 27 September 2015
Sumber foto: Kompas/Riza Fathoni

1 comment :

yoghyhananato said...

Cakep pak rumahnya, banyak bukaannya pencahayaannya terang alami. Oh iya maksudnya "zaman minyak berakhir jauh sebelum bumi ini kehabisan cadangan minyak" itu gimana pak?

Apa menurut bapak, konversi penggunaan energi ke non migas akan segera berlangsung?