Arsitektur yang Berkarakter, Arsitektur yang Ikonik

oleh ALOIS WISNUHARDANA

Jika saja Eero Saarinen, salah satu juri pada sebuah kompetisi desain internasional tahun 1956 di Sydney, tidak melongok karya-karya yang sudah "dibuang" oleh juri-juri lainnya, hari ini bisa jadi kita tidak bisa menikmati sebuah bangunan sederhana tetapi ikonik, Sydney Opera House.

Pada tahun itu, pemerintah negara bagian New South Wales, Australia, menyelenggarakan kompetisi desain internasional untuk merancang sebuah bangunan dengan dua fungsi, satu untuk pementasan opera dan satu lagi untuk konser-konser simfoni.

Tidak ada batasan biaya untuk desain yang dirancang sehingga memberi keleluasaan para peserta untuk mengeksplorasi ide-idenya. Lokasi tapak berada di Bennelong Point, Sydney Harbour Bridge.

Mereka kemudian menunjuk juri independen untuk memilih pemenang, salah satunya Saarinen, arsitek Amerika Serikat kelahiran Finlandia. Sebanyak 200 arsitek dan desainer dari seluruh dunia mengikuti kompetisi tersebut.

Pada tahun 1957, ketika proses penjurian berlangsung, juri-juri sudah mengerucut pada beberapa desain yang masuk nomine. Eero Saarinen, juri dari Amerika Serikat yang datang terlambat 3 hari di Sydney justru tertarik dengan sebuah rancangan yang sebelumnya sudah masuk kotak.

Terjadilah diskusi dan argumentasi, sampai kemudian juri satu ini berhasil meyakinkan juri-juri lain bahwa karya yang ditunjuknya memiliki konsep yang mengagumkan, kuat dan visioner, serta layak menjadi pemenang. Desain tersebut adalah karya seorang arsitek muda berumur 38 tahun asal Denmark, Jorn Utzon.

Sydney Opera House
(gambar dari: free-wallpaperbase.com)

Ingatan dan harapan

Setelah 16 tahun proses pembangunan, hingga hari ini Sydney Opera House menjadi ikon terpenting Kota Sydney dan pada tahun 2008 dinobatkan sebagai warisan budaya dunia oleh badan PBB, UNESCO.

Penciptaan bangunan yang berkarakter dan kemudian menjadi legenda serta menjadi penanda kota (landmark) seperti Opera House, ada proses kreatif yang menggabungkan dua aspek yang selalu menggelisahkan pikiran manusia sepanjang masa; ingatan dan harapan.

Ingatan atau memori adalah jejak pengalaman masa lalu yang tersimpan menjadi tabungan rasa berkat kekuatan pancaindera. Sementara itu, harapan adalah imajinasi tentang masa depan dalam alam berpikir manusia yang ingin dialami, dihayati, dan dirasakan. Pada dua aspek itulah setiap pikiran dan tindakan bertumpu.

Dalam konteks berasitektur, di sanalah seorang desainer atau arsitek memiliki ruang eksplorasi yang luas sehingga karya yang dihasilkannya tidak semata-mata merupakan suatu ekspresi teknikal, tetapi juga mengandung cita rasa seni yang tinggi, berkarakter, menyentuh, dan visioner.

Dalam skala kota, bangunan-bangunan yang demikian akan terlihat leih menonjol, hidup, dan bernyawa, dibandingkan dengan bangunan atau lingkungan di sekelilingnya. Ia tidak mesti menjulang seperti Menara Petronas di Kuala Lumpur, Shanghai, atau Burj Khalifa di Dubai. Benar bahwa ketinggian juga bisa memesona dan menggetarkan, tetapi tidak harus dengan pendekatan yang demikian. Bentuk yang ikonik adalah cara lain.

Menjawab tantangan

Salah satu arsitek yang menggunakan pendekatan tersebut adalah Koichi Takada ketika merancang sebuah bangunan hunian dan komersial (mixed-use) Infinity by Crown, di kawasan Green Square, Sydney.

Arsitek Australia kelahiran Jepang ini mampu menjawab tantangan, bagaimana menciptakan suatu elemen kehidupan perkotaan masa depan pada situasi dan konteks masa kini. Sebuah desain yang memiliki massa bangunan berbentuk persegi lima asimetris dengan lekuk-lekuk pada lima sisinya dan ruang kosong (void) di tengah massa bangunan.

Yang mengejutkan, Takada kemudian "mengiris" satu sisi bangunan dan "melubangi" sisi lain yang berhadap-hadapan untuk menghadirkan ambience, pengudaraan, dan pencahayaan yang ideal pada keseluruhan bangunan.

Tentu saja, ini adalah pendekatan yang tak lazim dan nonlinear dari sudut pandang bsnis. Mengorbankan ruang komersial yang sebenarnya masi bisa dioptimalkan dalam perspektif bisnis properti pasti akan mengurangi nilai keuntungan secara keseluruhan.

Akan tetapi, nilai lebih yang lain justru didapatkan karena bangunan menjadi tampil ikonik, keluar dari jebakan massa kotak-kotak menjulang yang lazim kita lihat pada bangunan tinggi (high-rise building). Di situlah kemudian potensi itu dioptimalkan sehingga setiap sentimeter bangunan bernilai lebih tinggi. Pendekatan dari sudut pandang material yang mengombinasikan kaca dan aluminium pada sisi luar bangunan menjadikan Infinity seperti pulau kaca.

Infinity
(sumber: infinitybycrowngroup.com.au)

Koichi Takada menyempurnakan elemen-elemen detail bangunan ini berdasarkan pengalaman hidup masa kecilnya di Jepang, dikombinasikan dengan pendidikan dan praktik arsitekturnya ketika hidup di Tokyo, London, dan New York.

Arsitektur Jepang yang kaya akan detail dan cita rasa seni serta kehidupan kota metropolitan seperti London dan New York yang menekankan pentingnya mengoptimalkan setiap jengkal lahan dipadukan secara harmonis.

Dua sisi bangunan yang diiris diagonal menciptakan bingkai cahaya yang menaungi seluruh sisi bangunan apartemen pada bagian atas, dan meninggalkan energi kehidupan publik pada bagian bawah bangunan. Ini didapatkan karena Takada "mengangkat" massa bangunan, lalu menciptkan lorong jalanan sebagai ruang publik yang mengelilingi bangunan.

Melibatkan seluruh pancaindera

Perancangan dan proses kreatif yang dijalani Takada bersumber dari proses, formasi, dan struktur yang berlangsung di alam. Arsitektur, dalam pandnagan Takada lebih dari sekadar penciptaan bentuk yang indah. Proses ini harus melibatkan seluruh pancaindera. Misalnya, bagaimana kita merasakan angin sepoi-sepoi yang berembus, akustik yang nyaman di telinga, dan pencahayaan alami melalui kanopi-kanopi alamiah berupa pepohonan. Itu semua hanya dapat dirasakan ketika kita mengalaminya, merasakannya sendiri saat hadir di tengah-tengah bangunan.

Takada membuktikan, pemahaman akan alam dan elemen-elemen alamiah yang kuat, akan terpancar dari pilihan-pilihan material yang digunakan, dan terutama bentuk yang diciptakan.

Cara berpikir dan perancangan Takada yang bertumpu pada kehebatan alam dalam menciptakan imajinasi dalam diri manusia sedikit banyak dipengaruhi beberapa guru arsitektur terkemuka seperti Alejandro Zaera-Polo dan Farshid Moussavi yang menjadi pembimbingnya ketika menyelesaikan studi pascasarjananya, serta Rem Koolhaas.

CEO Crown Group Iwan Sunito yang membangun Infinity by Crown di Green Square menilai rancangan Koichi Takada ini sangat potensial untuk menjadi ikon baru bagi kota Sydney setelah Opera House, ketika bangunan ini selesai pengerjaannya pada tahun 2019. Bangunan yang dirancang melalui proses sayembara, yang Koichi Takada pada awalnya nyaris tak bisa memasukkan konsep desainnya.

Alois Wisnuhardana
Penulis dan peminat arsitektur
@wisnuhardana

Sumber: Kompas, 24/11/2015

No comments :