Tempat Paling Kaya di Dunia

Oleh Steve Kosasih*

Bertahun-tahun lalu, salah seorang mentor saya pernah bertanya, “Steve, apakah kamu mau ikut saya melihat tempat paling kaya di dunia?” Dengan mata berbinar-binar, saya menganggukkan kepala. Dia lalu mengajak saya mengunjungi sebuah taman pemakaman yang sangat besar dan megah.

Saat melihat wajah saya yang keheranan, dia pun berkata, “Ini tempat paling kaya di dunia. Di sini terkubur mimpi-mimpi besar yang tak pernah diwujudkan, penemuan-penemuan dahsyat yang tak pernah ditemukan, dan buku-buku yang tak pernah dituliskan. Semuanya hilang terkubur di sini.” Saya pun mengangguk-angguk, sama sekali tidak menduga jawabannya.

“Jangan biarkan semua kekayaan itu terkubur bersamamu saat kamu dipanggil Tuhan. Keluarkan semua kekayaan yang masih tersembunyi dan jadikan berguna bagi banyak orang. Sangat menyedihkan jika kita mati dengan semua kekayaan itu hilang terkubur bersama kita. Hiduplah penuh isi, matilah dengan kosong. Hanya dengan begitu, hidup kita tidak sia-sia.” Kata-kata mentor saya itu masih terngiang di telinga saya hingga hari ini.

Tidak berani bermimpi



Di sela-sela kesibukan melayani masyarakat, saya mencoba meluangkan waktu untuk berbagi dengan mengajar anak-anak jalanan atau murid-murid sekolah dasar dari kalangan ekonomi bawah.

Menurut saya, kecerdasan dan keceriaan murid-murid di sekolah dasar yang kumuh sekalipun relatif tidak jauh berbeda dibandingkan rekan-rekan mereka dari kalangan ekonomi menengah atau atas. Namun, ada satu hal yang sangat berbeda, yaitu keberanian mereka untuk bermimpi.

Suatu hari, saya bertanya, “Kalau sudah besar kamu mau jadi apa?”Jawaban yang saya terima rata-rata berkisar antara “sopir bajaj!”, “tukang cuci!”, atau “sekuriti!”. Mengapa demikian? Karena orangtua mereka adalah sopir bajaj, tukang cuci, atau penjaga keamanan yang menjadi role-model anak-anak yang cerdas dan ceria itu. Mereka tidak berani bermimpi lebih tinggi daripada apa yang mereka lihat. Waktu saya tanya “Kenapa tidak punya cita-cita yang lebih tinggi?”, mereka menjawab “Yah, kami tahu diri lah, Pak. Orangtua kami itu siapa, kami bukan siapa-siapa.” Ironisnya, para orangtua anak-anak itu membanting tulang agar anak-anak mereka dapat bersekolah dan memiliki nasib lebih baik daripada mereka yang tidak mengenyam bangku sekolah.

Karena penasaran, saya bertanya kepada anak-anak itu, “Kalau kamu punya uang banyaaakkk sekali dan kamu bisa beli apa saja yang kamu inginkan, kamu mau beli apa?” Jawaban yang paling popular hari itu adalah “nasi padang”. Ternyata mereka sering melihat orang-orang makan hingga berkeringat dengan begitu enaknya di rumah makan Padang. Mereka hanya mampu menonton dan menelan ludah karena tidak mampu membelinya. Itulah impian mereka.

Sungguh miris hati saya karena masih banyak anak-anak yang memimpikan sesuatu yang sebenarnya sangat sederhana. Merekalah generasi yang akan mewarisi bangsa dan negara ini. Generasi yang mimpinya hanya setinggi meja di rumah makan dan hanya sebesar piring nasi padang.

Mulailah bermimpi

Ibu saya berkarier sebagai pegawai negeri sipil, guru sekolah menengah atas. Ayah saya pun dulu hanya pegawai biasa. Saya bersyukur bahwa ayah dan ibu saya selalu menyemangati saya dan adik-adik untuk berani bermimpi besar dan mau bekerja keras untuk meraih mimpi-mimpi kami. Meskipun mewujudkan mimpi itu sama sekali tidak mudah dan sering kali mahal harganya, tanpa diawali mimpi kita tidak akan ke mana-mana. Mulailah bermimpi. Karena mimpi, doa, dan kerja keras menyiapkan diri kita untuk menerima karunia-Nya.


*Pemimpin Perusahaan Transportasi Publik

Sumber: Kompas, 10/12/2015

1 comment :

Dedy Koerniady Badubbah said...

sangat menginspirasi saya untuk kembali ke masa yang rajin menulis.